Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Merchandise
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Psikopat dan Sosiopat, Mana yang Lebih Berbahaya?
    Inspiring You

    Psikopat dan Sosiopat, Mana yang Lebih Berbahaya?

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman11 Februari 2023Updated:11 Februari 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Anda mungkin sudah sering mendengar istilah psikopat dan sosiopat (sociopath). Apa sebenarnya perbedaan dari dua gangguan kepribadian tersebut?

    Seperti banyak istilah lain di bidang psikologi, istilah psikopat dan sosiopat (sociopath) sering digunakan secara bergantian. Faktanya, baik psikopat maupun sosiopat bukanlah diagnosis resmi. Tidak ada perbedaan klinis antara keduanya. Namun, istilah psikopat dan sosiopat sering dipakai untuk mendeskripsikan seseorang dengan diagnosis Anti-social Personality Disorder (ASPD).

    “Beberapa orang membuat perbedaan artifisial berdasarkan tingkat keparahan gangguan kepribadian, tetapi itu tidak benar,” jelas psikiater Prakash Masand yang juga pendiri Center of Psychiatric Excellence, dikutip Healthline.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Mereka akan mengatakan bahwa psikopat adalah bentuk sosiopat yang lebih parah, tetapi sekali lagi, itu tidak benar.”

    Baik psikopat dan sosiopat adalah istilah atau cara lain untuk menggambarkan ASPD. Perilaku yang terlihat pada keduanya termasuk dalam gejala kategori ASPD.

    Adapun gejala ASPD antara lain sulit membedakan mana yang benar dan salah, kesulitan bersimpati atau menunjukkan rasa bersalah, cenderung mengabaikan keamanan dan tanggung jawab, sering berbohong, dan sering memanipulasi orang lain sampai berbuat kekerasan. 

    Cara mengenali orang dengan kecenderungan psikopat 

    Sebuah studi yang dilakukan Universitas Cardiff dan Swansea pada 2018 meneliti 82 pria pelaku gangguan mental. Para ilmuan meneliti bagaimana mata mereka bereaksi terhadap kombinasi gambar, video, dan klip suara yang dimaksudkan untuk memancing respons emosional negatif, positif, atau netral.

    Beberapa gambar berkonotasi positif seperti anak anjing, dan gambar lainnya berkonotasi negatif, seperti luka berdarah.

    Psikopat dan non-psikopat diawasi dengan seksama. Dan hasilnya, studi yang telah diterbitkan dalam jurnal Personality Disorders: Theory, Research, and Treatment itu menemukan bahwa pupil mata non-psikopat melebar ketika melihat sesuatu yang menakutkan, sedangkan pupil mata seorang psikopat tidak.

    “Pupil mata telah lama diketahui sebagai indikator gairah seseorang. Pupil biasanya membesar ketika sebuah gambar mengejutkan atau membuat kita takut.

    Namun, respons fisiologis terhadap ancaman ini berkurang pada pelaku psikopat. Ini bisa memberi kita penanda fisik yang jelas untuk mengenali psikopat,” kata Dan Burley dari Fakultas Psikologi Universitas Cardiff.

    Temuan dari sejumlah studi lain menunjukkan bahwa seseorang dengan kecenderungan psikopat cenderung tidak melakukan kontak mata dengan orang lain. 

    [Dexpert.co.id]


    Lihat arikel lainnya


    Ini Tanda Anda Bertemu Psikopat, Perhatikan Bola Matanya

    (hsy/hsy)


    Gaya Hidup Terkini Inspirasi Kamu
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.