Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Merchandise
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Anak Bertumbuh Pendek, Apakah Sudah Pasti Stunting?
    Inspiring You

    Anak Bertumbuh Pendek, Apakah Sudah Pasti Stunting?

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman2 Maret 2023Updated:2 Maret 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Tidak sedikit masyarakat yang menganggap bahwa anak dengan perawakan pendek (stunted) merupakan anak stunting. Padahal, dokter spesialis anak, dr. Gaisani Fadiana menyebutkan bahwa perawakan pendek dan stunting adalah hal yang berbeda.

    “Perawakan pendek adalah jika tinggi badan anak di bawah persentil tiga atau kurang dari minus dua standar deviasi kurva pertumbuhan berdasarkan usia dan jenis kelamin,” ujar dr. Gaisani, dikutip dari YouTube resmi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rabu (1/3/2023).

    “[Sedangkan] stunting adalah pendek yang disebabkan oleh kekurangan nutrisi, penyakit, atau infeksi kronis yang berlangsung lama,” lanjutnya.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dikutip dari laman resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting adalah salah satu jenis malnutrisi yang ditandai dengan tinggi badan di bawah rata-rata dan tidak sesuai dengan usia. WHO menyebutkan, stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis yang dapat dikaitkan dengan kemiskinan, kesehatan, dan gizi ibu yang buruk.

    Gaisani mengatakan, 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak dari masa kandungan sampai dengan usia dua tahun adalah fase yang sangat penting untuk perkembangan dan tumbuh kembang hingga dewasa. Ia juga menjabarkan, fase pertumbuhan dibagi menjadi beberapa periode, yaitu fase dalam kandungan, fase bayi, fase anak-anak, dan fase pubertas atau remaja.

    “Masing-masing fase dipengaruhi beberapa faktor, yakni faktor nutrisi, faktor genetik dari orang tua, faktor hormonal, dan juga faktor lingkungan,” sebutnya.

    “Kalau misalnya ada kekurangan nutrisi, terutama pada periode dua tahun pertama, tinggi badannya akan terganggu dan menyebabkan gangguan dari fungsi kognitif,” lanjutnya.

    Bila anak mengalami masalah terhadap nutrisi maka tidak hanya tinggi badannya saja yang akan dipengaruhi, tetapi juga faktor perkembangan yang berpengaruh pada berkurangnya indeks kecerdasan atau IQ.

    Menurut studi UNICEF Indonesia pada 2012, prestasi pendidikan anak yang mengalami stunting cenderung lebih buruk bila dibandingkan dengan anak yang tidak stunting. Akibatnya, banyak anak stunting yang putus sekolah karena kemampuan berpikirnya yang kurang.

    Lantas, bagaimana cara mengatasi perawakan pendek pada anak?

    Gaisani mengungkapkan bahwa cara mengatasi perawakan pendek pada anak tergantung pada penyebab pendeknya. Bila anak pendek akibat nutrisi maka yang perlu diperhatikan adalah asupan nutrisi secara makronutrien dan mikronutrien.

    Makronutrien adalah nutrisi dengan komposisi karbohidrat, protein, dan lemak yang cukup, sedangkan mikronutrien adalah nutrisi berupa zat besi, seng, vitamin D, dan kalsium.

    “Semuanya harus dipenuhi oleh anak mulai dari usia bayi sampai usia remaja,” tegas Gaisani.

    Selain itu, bila kembali pada 1.000 hari pertama kehidupan, kesehatan dan asupan nutrisi saat ibu hamil juga perlu menjadi prioritas utama.

    Lalu, bila penyebab anak pendek adalah kelainan hormonal maka perlu dilakukan terapi pengganti hormon sebagai salah satu alternatif dari tata laksana.

    Saat ini, Pemerintah Indonesia menjadikan percepatan penurunan stunting sebagai salah satu program prioritas nasional. Maka dari itu, pemerintah menargetkan angka stunting menurun jadi 14 persen pada 2024.

    Beberapa waktu lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengumumkan bahwa angka stunting di Indonesia menurun jadi 21,6 persen. Dengan demikian, angka stunting menunjukkan penurunan sebesar 2,8 persen bila dibandingkan dengan 2021 yang mencapai angka 24,4 persen.


    Artikel Selanjutnya


    Psikopat Bisa Dikenali dari Matanya, Begini Tandanya

    (hsy/hsy)


    Gaya Hidup Terkini Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    Video: Jurus Fintech Tekan Angka Kredit Macet

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.