Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Merchandise
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Tutup di RI, Begini Nasib Ecommerce China Sekarang
    Insight News

    Tutup di RI, Begini Nasib Ecommerce China Sekarang

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa15 November 2024Updated:15 November 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Raksasa e-commerce China JD.com melaporkan pendapatan yang lebih rendah ketimbang ekspektasi pasar. Hal ini dipicu kondisi ekonomi yang menantang dan memengaruhi daya beli masyarakat.

    Saham JD.com yang didaftarkan di bursa Amerika Serikat (AS) anjlok lebih dari 3% sebelum pasar dibuka, dikutip dari YahooFinance, Jumat (15/11/2024).

    Sebagai informasi, salah satu anak usaha JD.com yang khusus melayani masyarakat Indonesia, JD.ID, resmi ditutup pada Maret 2023 silam.

    Dalam keterangan resminya, manajemen JD.ID kala itu menyebut penutupan unit bisnis di Indonesia merupakan upaya JD.com untuk fokus membangun jaringan rantai pasokan lintas negara dengan inti bisnisnya di sektor logistik dan gudang.

    JD.com melaporkan kenaikan total pendapatan 5,1% pada kuartal-III (Q3) 2024 senilai 260,4 miliar yuan atau di bawah ekspektasi pasar yang mematok pendapatan 261,45 miliar yuan, menurut data LSEG.

    Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa naik 47,8% dari tahun-ke-tahun, menjadi 11,7 miliar yuan untuk kuartal Juli-September.

    “Selama kuartal ini, kami memainkan peran penting pada program trade-in di China. Hal ini berkat kapabilitas utama kami pada rantai pasokan dan pemenuhan infrastruktur yang kami bangun selama dua dekade terakhir, kata CEO JDcom Sandy Xu.

    Krisis pasar properti di China yang terus berlangsung, ditambah perlambatan ekonomi dan bursa kerja yang mengkhawatirkan, telah berdampak pada daya beli masyarakat di negara ekonomi terbesar kedua di dunia. Hal ini berdampak besar pada permintaan di sektor ritel.

    Pemerintah China sudah menawarkan berbagai rencana untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, ketiadaan aksi nyata untuk mendorong daya beli masyarakat telah mengguncang bisnis e-commerce seperti JD.com.

    JD.com juga melaporkan pengeluaran yang meningkat 7,2% secara kuartal-ke-kuartal menjadi 16,3 miliar yuan. Angka itu melewati estimasi pasar senilai 15,94 miliar yuan.

    (fab/fab)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Bantu Inklusi Keuangan RI, Fintech Perluas Kredit UMKM





    Next Article



    Aplikasi China Pembunuh Alibaba Mau Jajah RI, Pemerintah Lakukan Ini



    Smart your life Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.