Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Polusi Udara Tingkatkan Risiko Serangan Jantung, Ini Penjelasan Dokter
    Inspiring You

    Polusi Udara Tingkatkan Risiko Serangan Jantung, Ini Penjelasan Dokter

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman18 November 2024Updated:18 November 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    JakartaDexpert.co.id – Penyakit kardiovaskular menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Gangguan kesehatan yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah ini memiliki beragam faktor risiko, tak terkecuali faktor lingkungan.

    Spesialis jantung dan pembuluh darah dr Ade Meidian Ambari, SpJP(K) FIHA dari Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita mengatakan tidak bisa dimungkiri bahwa gaya hidup berperan dalam meningkatkan risiko serangan jantung. Namun, paparan polusi dalam jangka panjang juga terkait dengan risiko serangan jantung.

    “Ada faktor risiko yang kita suka nggak inget. Polusi. PM 2,5 itu kalau terpapar, risiko untuk serangan jantung lebih tinggi,” kata dr Ade di agenda Indonesia International Cardiovascular Summit (IICS) 2024, Jakarta Selatan, Minggu (17/11/2024).

    Studi yang dipublikasikan di International Journal of Cardiology Cardiovascular Risk and Prevention menemukan bahwa polusi udara, terutama paparan terhadap partikulat 2,5 (PM2,5), telah dikaitkan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia.

    Secara khusus, PM2,5 mendorong perkembangan faktor risiko kardiovaskular seperti hipertensi dan aterosklerosis, sekaligus dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk infark miokard (MI), stroke, gagal jantung, dan aritmia.

    Penelitian lain oleh Harvard University menemukan bahwa paparan rata-rata tiga tahun terhadap PM2,5 dikaitkan dengan peningkatan risiko rawat inap pertama di rumah sakit untuk semua kondisi kardiovaskular, terutama penyakit jantung iskemik, penyakit serebrovaskular, gagal jantung, dan aritmia.

    Risiko terkena serangan jantung juga akan jauh lebih tinggi jika mengidap penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi atau tekanan darah tinggi.

    “Kalau kita punya faktor risiko, ada darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, merokok, makanya dia akan lebih cepat (terkena serangan jantung),” ungkap dr Ade.

    Artikel selengkapnya >>> Klik di sini

    (Sumber: CNBC.com )

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Timnas Indonesia Siap Hadapi Laga Lawan Timnas Jepang





    Next Article



    Kenali Penyumbatan Jantung Beserta Pencegahan dan Pengobatannya



    Berani sukses Innovation
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.