Daftar Isi Jakarta, Dexpert.co.id – Sejak masa pandemi, banyak startup yang terguncang di Indonesia. Istilah ‘tech winter’ yang ditandai PHK massal dan seretnya pendanaan membuat banyak startup terguncang. Sepanjang 2024, ada beberapa startup yang terpaksa harus gulung tikar dan menutup bisnis. Ada pula startup yang bermasalah, meski hingga kini masih beroperasi. Berikut ini merupakan daftar startup terkenal yang bermasalah hingga beberapa ada yang tutup, dirangkum CNBC Indonesia pada Kamis (2/12/2024). Zenius Startup edutech Zenius mengumumkan tutup sementara pada awal 2024. Perusahaan penyedia platform pendidikan online dan pemilik jaringan bimbingan belajar Primagama tersebut mengaku harus menghentikan kegiatan karena “tantangan operasional.” Penghentian operasi untuk sementara diumumkan oleh Zenius, antara lain,…
Penulis: Ardhian Valqa
Jakarta, Dexpert.co.id – Banyak HP Android dan iPhone yang tak bisa lagi menggunakan aplikasi pesan singkat WhatsApp pada 2025 ini. Meta, perusahaan induk WhatsApp, menyebutkan bahwa perangkat lama tidak memiliki kapasitas perangkat keras untuk mendukung fitur-fitur terbaru. Salah satu fitur tersebut adalah integrasi kecerdasan buatan (AI) yang memerlukan perangkat lebih canggih. Melansir PhoneArena, beberapa model ponsel Samsung yang terdampak termasuk Galaxy S3, Galaxy Note 2, dan Galaxy S4 Mini. Selain itu, ponsel Motorola, HTC, LG, dan Sony seperti Xperia Z dan Nexus 4 juga masuk dalam daftar. Meta juga mengimbau pengguna untuk mencadangkan data WhatsApp mereka sebelum batas waktu yang…
Jakarta, Dexpert.co.id – Pada April 2024 lalu, perusahaan di sektor fintech bernama Synapse mengajukan kebangkrutan. Banyak nasabah yang mengalami kerugian yang ditaksir mencapai Rp 1,5 triliun. Masalah ini bermula saat Synapse dan Evolve Bank terlibat perselisihan terkait saldo nasabah pada bulan Mei lalu. Synapse diketahui membantu startup fintech Yotta dan Juno menawarkan rekening giro dan kartu debit dengan menghubungkan pada layanan pemberi pinjaman kecil seperti Evolve. Akhirnya perusahaan fintech itu mematikan akses ke sistem utama untuk memproses transaksi. Perpindahan klien secara besar-besaran terjadi dan membuat Synapse bangkrut. Ditemukan pula masih ada dana nasabah yang hilang hingga US$96 juta (Rp 1,5 triliun). Masalah…