Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Merchandise
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Awas! Hacker Kini Banyak ‘Gentayangan’ di Aplikasi Ini
    Insight News

    Awas! Hacker Kini Banyak ‘Gentayangan’ di Aplikasi Ini

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa19 September 2021Updated:19 September 2021Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Menurut sebuah laporan ada peningkatan kejahatan siber di Telegram. Ini terjadi setelah pengguna melakukan migrasi dari WhatsApp karena perubahan kebijakan privasi.

    Laporan itu berasal dari Financial Times dan kelompok intelijen siber Cyberint. Disebutkan terdapat ‘peningkatan 100% pada penggunaan Telegram untuk kejahatan siber’, dikutip laman Engadget akhir pekan lalu.

    FT menyebut peningkatan itu datang setelah pengguna berbondong-bondong pindah karena perubahan kebijakan privasi WhatsApp. Saat itu WhatsApp meminta pengguna untuk menerima kebijakan barunya yang salah satunya menyebut akan berbagi data dengan Facebook.

    Saat kebijakan privasi itu diumumkan, banyak pengguna WhatsApp yang marah. Bahkan platform itu harus mengklarifikasinya dan meyakinkan pengguna tidak akan membaca chat mereka.

    Namun orang-orang akhirnya melakukan migrasi besar-besaran ke platform saingan WhatsApp. Mereka menuju ke layanan yang menawarkan kemampuan pengiriman pesan yang sama dan aman, salah satunya Telegram.

    Para penyelidik menyebut terdapat jaringan besar peretas yang berbagi dan juga menjual kebocoran data di kanal dengan puluhan ribu pelanggan. Frekuensi ‘email;pass’ dan ‘combo’ disebut dalam aplikasi setahun terakhir dan meningkat empat kali lipat.

    Sejumlah dump data yang beredar di aplikasi berisi 300 ribu hingga 600 ribu kombinasi email dan password untuk game dan layanan email.

    Selain itu penjahat siber juga menjual informasi soal keuangan, seperti nomor kartu kredit, salinan paspor, dan alat peretasan dari aplikasi.

    “Layanan pesan terenkripsi makin populer di kalangan pelaku ancaman yang melakukan aktivitas penipuan dan menjual data curian. Karena lebih nyaman digunakan dari dark web,” kata analis ancaman siber Cyberint, Tal Samra.

    Samra mengatakan selain lebih nyaman daripada dark web, Telegram juga disebut cenderung tidak diawali oleh pihak berwenang.

    FT telah memberitahu perusahaan soal masalah ini. Telegram juga menghapus saluran di mana ada penjualan kumpulan big data dengan email dan password.

    Telegram juga menyebut perusahaan punya kebijakan menghapus data pribadi yang dibagikan tanpa persetujuan serta juga memiliki kekuatan moderator profesional yang bertambah.

    [Dexpert.co.id]

    (mij/mij)



    Smart your life Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.