Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Merchandise
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Kasus Sifilis di Yogya Lagi Ngeri, Kenali Gejalanya
    Inspiring You

    Kasus Sifilis di Yogya Lagi Ngeri, Kenali Gejalanya

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman26 Mei 2023Updated:26 Mei 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilaporkan mengalami peningkatan kasus penyakit menular seksual sifilis. Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mengatakan bahwa pengidap sifilis didominasi oleh laki-laki.

    Dilansir dari Detik Health, mayoritas kasus sifilis di DIY dialami oleh laki-laki dengan rentang usia 25-49 tahun dan didominasi oleh kelompok lelaki seks lelaki (LSL). Pada kelompok LSL, tren kasus sifilis meningkat setiap tahun dengan persentase 15 persen pada 2020, meningkat menjadi 34 persen pada 2021, 44 persen pada 2022, kemudian melonjak menjadi 60 persen pada 2023.

    Selain itu, kasus sifilis juga ditemukan pada kelompok wanita pekerja seks, pelanggan pekerja seks, dan waria. Namun, persentase jumlah kasus pada kelompok-kelompok tersebut lebih rendah.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Secara rinci, bila mengacu pada data Dinkes DIY sejak 2020, dari 67 kasus sifilis, hanya 43 kasus di antaranya mendapatkan pengobatan. Kemudian pada 2021, dari 141 kasus, hanya 83 orang yang diobati. Berlanjut pada 2022, dari 333 kasus sifilis, hanya 105 orang yang diobati,

    Sementara itu, Data terakhir pada triwulan pertama 2023, dari 89 kasus sifilis, hanya 26 orang yang sudah mendapatkan pengobatan.

    “Dari populasi (pasien sifilis) yang ditemukan sekian itu, yang berobat baru sekian persen. Mungkin karena namanya kena sifilis ini, ada rasa malu [untuk berobat],” ujar Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, Setyarini Hestu Lestari, dikutip Jumat (26/5/2023).

    Apa itu sifilis?

    Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), sifilis atau penyakit raja singa adalah salah satu jenis Infeksi Menular Seksual (IMS). Penyakit yang disebabkan oleh bakteri treponema pallidum ini umumnya diawali dengan luka yang tidak nyeri pada alat kelamin, rektum (sistem pencernaan yang terletak dekat usus besar), atau mulut.

    “Sifilis lebih banyak menular akibat berhubungan seksual dengan penderita. Selain hubungan seksual, penyebaran sifilis juga bisa terjadi melalui kontak fisik dengan luka di tubuh penderita atau menular dari ibu ke janin saat kehamilan atau persalinan,” tulis Kemenkes, dikutip Jumat (26/5/2023).

    Kemenkes mengatakan, ada sejumlah kondisi yang membuat seseorang berisiko mengidap sifilis, yakni sering berganti pasangan seksual, berhubungan seksual tanpa pengaman atau kondom, memiliki pasangan seksual penderita sifilis, orientasi LSL, dan positif terinfeksi HIV.

    Gejala sifilis digolongkan sesuai dengan tahap perkembangan penyakitnya. Tiap jenis sifilis memiliki gejala yang berbeda sebagai berikut.

    • Sifilis primer
      Sifilis jenis ini ditandai dengan luka kecil (chancre) di tempat bakteri masuk pada sepuluh hingga 90 hari setelah terpapar. Umumnya, luka ini muncul di sekitar kelamin, mulut, atau dubur.

    • Sifilis sekunder
      Beberapa minggu setelah luka menghilang, gejala sifilis jenis ini ditandai dengan munculnya ruam di tubuh, terutama telapak tangan dan kaki. Pada beberapa kasus, ruam dapat disertai kutil di area kelamin atau mulut.

    • Sifilis laten
      Bila telah memasuki tahap ini, sifilis ini tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun. Namun, bakteri ada di dalam tubuh penderita dan masih bisa menular.

    • Sifilis tersier
      Infeksi sifilis pada tahap ini umumnya muncul pada sepuluh hingga 30 tahun setelah terjadi infeksi pertama. Sifilis tahap tersier muncul dengan terjadinya kerusakan organ permanen.

    Pada tahap ini, sifilis dapat memengaruhi mata, otak, jantung, pembuluh darah, hati, tulang, dan sendi-sendi sehingga bisa meningkatkan risiko kebutaan, penyakit jantung, atau stroke.

    (hsy/hsy)


    Gaya Hidup Terkini Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.