Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Merchandise
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Kemenkes Ungkap Negara Boncos Rp17,5 Triliunan karena Polusi
    Inspiring You

    Kemenkes Ungkap Negara Boncos Rp17,5 Triliunan karena Polusi

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman24 Agustus 2023Updated:24 Agustus 2023Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Beberapa bulan belakangan ini, kualitas udara di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) serta beberapa wilayah di Indonesia semakin memburuk. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang mengeluh alami gangguan kesehatan.

    Mengutip dari unggahan Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), polusi udara menyumbang sebanyak 36,6 persen kasus penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), 32 persen kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia, 29,7 persen kasus asma, 12,5 persen kasus kanker paru, dan 12,2 persen kasus tuberkulosis.

    Kelima penyakit pernapasan tersebut juga menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia, menurut data Global Burden Diseases 2019. 


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Jika polutan dihirup terus-menerus dalam waktu yang lama, dapat berdampak negatif pada kesehatan,” tulis Kemenkes melalui unggahan Instagram resminya (@kemenkes_ri), Kamis (24/8/2023).

    “Dampak buruknya bisa bermacam-macam. Selain berdampak pada kekebalan tubuh, polusi juga dapat memicu timbulnya penyakit pernapasan, seperti kanker paru, asma, PPOK, tuberkulosis, dan pneumonia,” lanjut Kemenkes.

    Dalam unggahan yang sama, Kemenkes mengungkapkan bahwa penyakit pernapasan menjadi beban tertinggi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) selama periode 2018-2022 dengan rincian sebagai berikut.

    1. Kanker Paru menelan biaya (Rp766 miliar) – 150.268 pasien BPJS

    2. Asma menelan biaya (Rp1,4 triliun) – 2,1 juta pasien BPJS

    3. PPOK menelan biaya (Rp1,8 triliun) – 1 juta pasien BPJS

    4. Tuberkulosis menelan biaya (Rp5,2 triliun) – 1,8 juta pasien BPJS

    5. Pneumonia menelan biaya (Rp8,7 triliun) – 2,1 juta pasien BPJS

    Jika ditotal, negara menghabiskan lebih dari Rp17,5 triliun untuk mengobati penyakit pernapasan yang disebabkan oleh polusi udara.

    Tips agar tak mudah sakit di tengah ancaman polusi




    Foto: (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
    Dokter melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap pasien bergejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (15/8/2023). Tingginya angka polusi udara di Jakarta belakangan ini menyebabkan jumlah warga yang terinfeksi penyakit ISPA meningkat. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

    1. Bernapas lewat hidung

    Clinical & Scientific Lead AsaRen, dr. Meryl Kallman, meminta masyarakat untuk kembali rutin menggunakan masker dan bernapas lewat hidung, bukan mulut. Sebab, hidung adalah ‘air purifier’ alami manusia karena memiliki penyaring alami berupa bulu hidung.

    “Kalau harus beraktivitas di luar, sebaiknya gunakan masker respirator, seperti N95. Lalu, perlu diingat untuk bernapas lewat hidung karena hidung semacam ‘air filter’ (penyaring udara) bawaan,” kata dr. Mimi kepada CNBC Indonesia di Jakarta, Senin (14/7/2023).

    “Kalau tarik napas, kita harus tarik napas lewat hidung. Kalau napas lewat mulut, itu lebih banyak polusi yang bisa masuk ke paru-paru,” paparnya.

    2. Gunakan air purifier tambahan

    dr. Mimi juga menyarankan penggunaan air purifier atau penyaring udara di dalam ruangan. Sebab, polusi di dalam ruangan terbukti lebih tinggi apabila dibandingkan dengan luar ruangan.

    “Penggunaan air purifier di dalam ruangan sangat direkomendasikan karena bisa menyaring polutan di udara, apalagi jika semua hal tersebut (polutan) berada di satu ruangan tanpa ventilasi,” kata dr. Mimi.

    3. Jaga pola makan dan konsumsi vitamin

    Masyarakat juga harus mulai melakukan pola hidup sehat untuk menghindari risiko penyakit akibat kualitas udara buruk, salah satunya dengan menjaga pola makan seimbang.

    “Rekomendasi sejak awal zaman kedokteran masih berlaku saat ini, yaitu kita harus menjalani gaya hidup sehat, tidur yang cukup, minum air yang cukup, dan menjaga pola makan seimbang dengan nutrisi yang tepat,” ungkap dr. Mimi.

    “Zinc (seng) dan vitamin C adalah nutrisi yang harus selalu tercukupi karena dapat mendukung fungsi kekebalan yang sehat,” imbuhnya.

    4. Olahraga dalam ruangan

    Dalam menerapkan pola hidup sehat, dr. Mimi mengimbau setiap individu untuk menyeimbangkan aktivitas sehari-hari dengan rutin berolahraga ringan. Ia mengatakan, olahraga dapat dilakukan di dalam ruangan untuk menghindari paparan polusi udara.



    Artikel Selanjutnya


    Mengerikan! Kualitas Udara Jakarta Terburuk Kedua di Dunia

    (hsy/hsy)


    Innovation Inspirasi Kamu
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.