Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Merchandise
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Kisah Migingo, Pulau Terpadat Sedunia yang Jadi Rebutan Dua Negara
    Inspiring You

    Kisah Migingo, Pulau Terpadat Sedunia yang Jadi Rebutan Dua Negara

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman16 Desember 2024Updated:16 Desember 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    JakartaDexpert.co.id – Pernah membayangkan seperti apa kehidupan di pulau terpadat di dunia? Pulau Migingo, yang luasnya kurang dari setengah lapangan sepakbola, dihuni lebih dari 500 orang pada 2019. 

    Pulau yang luasnya kurang dari 2.000 meter persegi ini terletak di perbatasan antara Kenya dan Uganda. Perairan dalam yang mengelilinginya kaya akan ikan.

    Laporan Al Jazeera menyebut bahwa pulau berbatu tersebut dipenuhi gubuk-gubuk kecil yang kondisinya memprihatinkan. Gubuk-gubuk tersebut sebagian berfungsi sebagai bar, rumah bordil, dan kasino terbuka. Meski kondisinya tidak layak, Pulau Migingo sangat diperebutkan oleh Kenya dan Uganda yang sama-sama mengklaim kepemilikan.

    Migingo tidak lebih dari sekadar batu yang menjorok keluar dari air sebelum danau itu mulai surut pada awal 1990-an, menurut Emmanuel Kisiangani, seorang peneliti senior di kantor Institut Studi Keamanan Pretoria.

    Hasil tangkapan ikan telah sangat berkurang selama bertahun-tahun di komunitas nelayan di sekitar Danau Victoria karena penangkapan ikan yang berlebihan dan invasi tanaman eceng gondok yang menghalangi transportasi di danau dan akses ke pelabuhan. Namun, spesies seperti ikan Nil (disebut juga ikan Barramundi Afrika) masih melimpah di perairan dalam sekitar Migingo, menjadikan pulau ini pusat penangkapan ikan yang berharga dan unik.

    Berjuluk ‘Perang Terkecil’

    Saat pemukiman manusia mulai berkembang di pulau berbatu itu, Kenya dan Uganda memutuskan untuk membentuk komite bersama demi menentukan perbatasan pada tahun 2016. Kedua negara mengandalkan peta yang berasal dari tahun 1920-an. Namun, tidak ada hasil dari komite tersebut.

    Pulau Migingo pada akhirnya dikelola bersama oleh kedua negara, tetapi ketegangan kadang-kadang muncul. Sejumlah nelayan lokal menyebutnya sebagai “perang terkecil” di Afrika.

    “Mereka belum memutuskan siapa pemilik pulau ini,” kata nelayan Uganda Eddison Ouma. “Itu adalah tanah tak bertuan.”

    Berkat ekspor yang terus berlanjut ke Uni Eropa dan melonjaknya permintaan ikan barramundi di Asia, ikan besar itu telah menjadi ekspor bernilai jutaan dolar lebih.

    Uganda mulai mengerahkan polisi bersenjata dan marinir ke Migingo untuk mengenakan pajak kepada nelayan. 

    Sementara, nelayan Kenya mulai mengeluh bahwa mereka dilecehkan oleh pasukan Uganda karena berbagai alasan, termasuk tuduhan penangkapan ikan ilegal di perairan Uganda. Sebagai tanggapan, pemerintah Kenya mengerahkan marinir ke Migingo yang hampir membuat kedua negara itu bertengkar.

    (hsy/hsy)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Warga RI Mau Good Looking, Industri Kosmetik RI Makin Glowing

    Smart your life Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    Video: Jurus Fintech Tekan Angka Kredit Macet

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.