Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Merchandise
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Matahari Disebut Mulai ‘Bangun dari Tidur’, Bumi Terancam?
    Insight News

    Matahari Disebut Mulai ‘Bangun dari Tidur’, Bumi Terancam?

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa9 November 2021Updated:9 November 2021Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Matahari disebutkan bangun dari tidur. Indikasinya sebuah badai geomagnetik yang menjadi bagian dari siklus Matahari dilaporkan menghantam Bumi minggu lalu. Aktivitas itu menyebabkan fenomena cuaca antariksa yang berdampak pada tampilan aurora hingga kerusakan satelit.

    Badai geomagnetik besar menghantam Bumi pada 3-4 November lalu yang berasal dari serangkaian semburan Matahari pada dua hari sebelumnya.

    Ledakan itu dilaporkan berasal dari bintik Matahari yang merupakan badai magnetik di permukaan Matahari. Bintik dan aktivitas bintang besar itu bagian dari siklus sekitar 11 tahun dan badai yang terjadi minggu lalu adalah gejala dari tahapan Matahari pada siklus tersebut.

    “Beberapa tahun terakhir aktivitas [Matahari] sangat sedikit, seperti yang terjadi selama fase minimum Matahari, namun sekarang meningkat cukup cepat ke siklus Matahari maksimum berikutnya yang diprediksi terjadi tahun 2025,” kata koordinator program Pusat Prediksi Cuaca Luar Angkasa (SWPC) dari Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), Bill Murtagh kepada Space, dikutip Selasa (9/11/2021).

    “Kami melihat adanya peningkatan aktivitas yang dikaitkan dengan kenaikan siklus ini. Semacam fase kebangkitan”.

    Badai geomagnetik tersebut berasal dari serangkaian coronal mass ejections atau CMEs. Ini adalah material yang terkadang dimuntahkan oleh Matahari.

    Murtagh menjelaskan CME adalah awan satu miliar ton gas plasma dengan medan magnet. Jadi Matahari akan mengeluarkan magnet ke antariksa dan melakukan perjalanan ke Bumi.

    Namun Bumi pun punya medan magnetnya sendiri. “Kedua magnet akan bersatu dan itu akan menciptakan badai geomagnetik,” ungkapnya.

    Dalam beberapa kejadian, CME bisa tumbuh dalam perjalanannya. Laman Space menuliskan badai geomagnetik yang terjadi minggu lalu adalah serangkaian ledakan yang bergabung saat CME berikutnya bergerak lebih cepat dari sebelumnya.

    “CME pertama bekerja melalui 93 juta mil dan hampir membuka jalan pada CME lain untuk datang di belakangnya. Terkadang kami menggunakan istilah ‘cannibalizing’ yang di depan,” jelas Murtagh.

    Sementara itu badai geomagnetik dapat mengganggu infrastruktur penting. Mulai dari jaringan listrik, satelit navigasi, dan komunikasi radio pesawat di daerah terpencil. Ini jadi tugas Murtagh dan kawan-kawannya memantau cuaca antariksa untuk memberi peringatan pada operator infrastruktur kemungkinan adanya masalah.

    Misalnya badai minggu lalu, maka SWPC akan memberitahu seluruh operator jaringan listrik di Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Meskipun risiko apapun menjadi salah itu rendah.

    “Mereka ingin tahu bahwa itu terjadi jadi mereka tahu untuk bersiap,” ungkapnya.

    [Dexpert.co.id]

    (Update dari:CNBC.com )



    Innovation Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.