Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Merchandise
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Ngeri! Kasus Raja Singa pada Anak Naik 70%, Ini Penyebabnya
    Inspiring You

    Ngeri! Kasus Raja Singa pada Anak Naik 70%, Ini Penyebabnya

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman9 Mei 2023Updated:10 Mei 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap kondisi terbaru kasus penyakit menular seksual di Indonesia. Juru Bicara Kemenkes, dr. Mohammad Syahril, menyebutkan bahwa ada tiga penyakit menular seksual yang paling berisiko menjangkit anak, yakni human immunodeficiency virus (HIV), sifilis (raja singa), dan hepatitis B.

    Khusus kasus raja singa, kata dr. Syahril, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yakni 2018 sampai 2022 kemarin, terjadi peningkatan kasus sifilis hampir 70 persen.

    “Dari 12 ribu kasus menjadi 21 ribu kasus saat ini,” ungkapnya, dalam konferensi pers daring, Senin (8/5/2023).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Jalur penularan raja singa pada anak

    Ada tiga kemungkinan anak tertular penyakit menular seksual, yakni saat dalam kandungan, saat proses melahirkan, dan saat proses menyusui.

    Penularan penyakit raja singa atau sifilis dari jalur ibu ke anak menyumbang persentase yang cukup tinggi, yakni sebesar 69 hingga 80 persen. Umumnya, risiko yang akan terjadi pada bayi berupa risiko abortus alias keguguran, anak lahir mati, atau sifilis kongenital alias sifilis bawaan pada bayi baru lahir.

    dr. Syahril mengatakan bahwa hingga saat ini, hanya sekitar 40 persen ibu hamil penderita sifilis yang sudah diobati. Ia mengatakan, rendahnya angka pasien yang diobati karena faktor suami yang tidak mengizinkan istri untuk tes sifilis dan stigma masyarakat.

    “Ibu hamil dengan sifilis yang diobati masih rendah, hanya di kisaran 40 persen. Nah, sisanya alias 60 persen tidak mendapatkan pengobatan sehingga berpotensi menularkan dan menimbulkan cacat pada anak yang dilahirkan,” ujar dr. Syahril

    Berkaitan dengan hal tersebut, dr. Syahril mengimbau masyarakat Indonesia untuk menghindari aktivitas seksual yang berisiko serta tidak takut untuk melakukan tes HIV dan sifilis di fasilitas pelayanan kesehatan. Terlebih, tes HIV di puskesmas tidak dipungut biaya alias gratis.

    “Untuk itu, kita menghimbau pasangan yang sudah menikah agar setia dengan pasangannya untuk menghindari seks yang berisiko. Bagi yang belum menikah agar menggunakan pengaman untuk menghindari hal-hal yang berisiko untuk kesehatan,” imbau dr. Syahril.



    Artikel Selanjutnya


    Anak Kecil Juga Bisa Stress & Anxiety, Begini Tanda-Tandanya

    (hsy/hsy)


    Gaya Hidup Terkini Inspirasi Sukses
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.