Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Starlink Bawa Petaka Baru, Operator Seluler Jadi Korban
    Insight News

    Starlink Bawa Petaka Baru, Operator Seluler Jadi Korban

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa14 Januari 2025Updated:15 Januari 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Starlink yang diluncurkan pada 2019 oleh SpaceX milik Elon Musk, kini telah tersedia di lebih dari 100 negara di dunia. Namun, ternyata layanan internet satelit orbit ini membawa ‘petaka’ bagi perusahaan lain.

    Di Kenya misalnya, sejak diluncurkan pada Juli 2023, Starlink telah mendisrupsi industri penyedia layanan internet yang sudah ada.

    Starlink menawarkan kecepatan konektivitas yang tinggi dan ketersediaan yang luas di daerah-daerah terpencil, serta harga yang jauh lebih murah.

    Menurut angka terbaru yang diterbitkan oleh Otoritas Komunikasi Kenya, pada Juni 2024, lebih dari 8.000 orang Kenya berlangganan Starlink, menjadikannya penyedia layanan terpopuler kesepuluh di negara ini.

    Sementara penyedia telekomunikasi lokal seperti Safaricom dan Jamii, harus berjuang dengan menurunkan harga mereka sembari meningkatkan kecepatan internet.

    Di daerah pedesaan Kenya, layanan Safaricom dinilai terlalu mahal, sehingga Starlink menjadi penyedia internet pilihan untuk rumah tangga.

    Abel Boreto, seorang investor yang tinggal di Nairobi, mengatakan tak bisa mengandalkan jaringan internet dari Safaricom saat ia mengunjungi kampung halamannya, dan beralih ke Starlink pada Agustus lalu. Dia mengatakan bahwa layanan Starlink lebih murah dan mudah.

    “Safaricom cukup mahal dan internetnya pun tidak dapat diandalkan, jadi saya memutuskan untuk mencoba Starlink, yang lebih terjangkau ($10 per bulan untuk 50GB) untuk berlangganan dan digunakan dalam jangka panjang,” kata Boreto, dikutip dari Rest of World, Selasa (14/1/2025).

    “Ini sangat cepat dan memungkinkan saya untuk berbagi internet dengan orang tua dan kerabat ketika saya tidak berada di rumah,” imbuhnya.

    Saking populernya Starlink di Kenya, perusahaan sampai harus menghentikan sementara langganan baru di kota-kota besar pada awal November karena kapasitas jaringan tak mampu membendung kebutuhan yang membludak.

    Starlink berencana untuk menyebarkan lebih banyak infrastruktur di Nairobi dan Johannesburg untuk membawa lebih banyak orang menggunakannya.

    Mohan, profesor ilmu komputer di Delft University, menilai ledakan Starlink secara global menimbulkan kekhawatiran monopoli.

    Satu pemain dominan tidak hanya membuat pelanggan rentan terhadap kenaikan harga dan penurunan kualitas layanan, tetapi juga memberikan satu perusahaan kekuatan untuk mengontrol akses internet untuk seluruh negara.

    Perusahaan telekomunikasi Kenya juga telah menyuarakan kekhawatiran bahwa Starlink akan mengambil pangsa pasar dari perusahaan lokal yang mempekerjakan ribuan orang di benua Afrika.

    (fab/fab)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Antisipasi China, AS Perketat Akses Ekspor Chip & AI




    Next Article



    Elon Musk Gratiskan Internet Starlink di Indonesia, Ini Syaratnya



    Techno for life Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.