Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Merchandise
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Sudah Divaksin Kena Covid-19, Ahli Ungkap Biang Keroknya
    Insight News

    Sudah Divaksin Kena Covid-19, Ahli Ungkap Biang Keroknya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa10 September 2021Updated:13 September 2021Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Sejumlah orang telah mendapatkan vaksin penuh tetapi terinfeksi virus corona Covid-19. Penyebabnya, varian Delta.

    Seperti diketahui di sejumlah negara, termasuk di Indonesia sempat atau bahkan masih mengalami peningkatan kasus Covid-19. Misalnya di Amerika Serikat (AS), rata-rata pergerakan selama tujuh hari dari kasus harian mencapai 153.246 kasus atau meningkat 4,9 persen dari 7 hari sebelumnya.

    Sementara laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) rata-rata pergerakan 7 hari saat ini adalah 123,6% lebih tinggi dari pengamatan satu tahun lalu.

    Di Inggris juga mengalami peningkatan kasus, pada 6 September rata-rata tujuh hari kasus baru hampir 39 ribu dan jumlah kasus harian tetap tinggi seperti pada Rabu hampir 40 ribu kasus baru.

    Peningkatan kasus itu terjadi saat cakupan vaksinasi dua cukup tinggi. Data CDC mencatat 62,4% orang di AS berusia 12 tahun ke atas telah divaksinasi penuh dan 82% berusia 65 tahun juga mendapatkan vaksin.

    Di Inggris, sekitar 80,4% populasi di atas usia 16 tahun telah divaksinasi penuh.

    Andrew Freedman, ahli penyakit menular di Cardif University School of Medicine, menuduh varian Delta berada di balik ini semua. Dia juga mengatakan yang tertular Covid-19 adalah campuran mereka yang tidak divaksinasi, baru satu kali disuntik vaksin, dan mendapat vaksin ganda.

    “sebagian besar infeksi baru terjadi pada anak dan remaja (yang tidak divaksinasi),” ungkapnya kepada CNBC Internasional, Jumat (10/9/2021).

    “Kami tahu vaksin hanya sebagian efektif mencegah orang tertular dari varian delta, namun lebih efektif untuk melindungi dari penyakit parah, rawat inap, dan kematian. Individu yang mendapatkan vaksin lengkap sebagian besar hanya mengalami gejala ringan saat tertular, meskipun sebagian kecil terutama orang lebih tua dan lebih lemah mengalami penyakit lebih parah,” jelas Andrew Freedman.

    Para Epidemiolog dan pakar kesehatan masyarakat juga sudah menyebut Covid-19 merupakan sesuatu yang harus dibiasakan. Virus akan jadi endemik dan tidak bisa diberantas.

    Strategi nol Covid, untuk menghilangkan semua kasus Covid-19, dinilai sebagai tujuan sia-sia di sebagian besar negara. Australia yang pernah mengejar strategi itu, mengumumkan pada Agustus mengabaikan kebijakan nya karena penyebaran varian Delta sangat menular.

    Sementara itu Selandia Baru tetap akan mempertahankan strategi nol Covid-19, setidaknya untuk saat ini.

    [Dexpert.co.id]

    (Update dari:CNBC.com )



    High Technology Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.