Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Merchandise
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Wah, 3 Kalimat Toksik Ini Sering Diucapkan Orang Cerdas
    Inspiring You

    Wah, 3 Kalimat Toksik Ini Sering Diucapkan Orang Cerdas

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman30 April 2023Updated:1 Mei 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Istilah kata-kata toksik kini semakin banyak ditemukan dalam lingkaran pertemanan atau dalam lingkungan pekerjaan. Biasanya kata ini terlontar dari orang yang kurang memiliki emosi dan kecerdasan rendah.

    Namun, siapa sangka ternyata kata-kata toksik juga bisa keluar dari bibir orang cerdas?


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Kecerdasan emosional yang dimiliki oleh seseorang sering diidentikkan dengan tingkat emotional quotient (EQ) yang tinggi. Selain dianggap cerdas, mereka yang memiliki EQ tinggi juga sering dianggap easy-going dan penuh empati.

    Faktanya, orang yang memiliki EQ tinggi juga bisa melakukan hal-hal ‘normal’ lainnya, seperti menggunakan kata-kata toksik. Walaupun sering dinilai cenderung jarang menggunakan kalimat negatif, faktanya orang cerdas juga tak ragu melontarkan kata-kata toksik, jika dianggap bisa membantu mencapai target.

    Satu hal yang perlu dicatat, mereka tak mengucapkan sembarang kata kasar untuk menyakiti hati orang lain. Berikut ini adalah beberapa contoh kalimat toksik yang sering digunakan orang cerdas untuk menyampaikan maksudnya.

    1. “Bisa Nggak Kamu/Anda…?”

    Ungkapan ini biasanya digunakan orang cerdas untuk menyampaikan perintah secara halus. Orang cerdas umumnya takkan menggunakan kalimat ini pada kolega atau pihak yang ingin dia jaga hubungan baiknya. Misalnya, “Bisa nggak kamu olahraga sedikit?”, “Bisa nggak kamu mengerjakan lebih cepat?”, dan semacamnya.

    Meski demikian, Founder Understandably sekaligus editor kontributor Inc Bill Murphy,, mengungkapkan bahwa kalimat ini menjadi “senjata” retoris orang cerdas untuk mengurangi nada khawatir dan keraguan.

    Orang-orang cerdas mungkin menggunakannya saat berusaha melakukan penjualan, meyakinkan klien, atau mendapatkan keuntungan yang peluangnya belum bisa diprediksi. Misalnya:

    “Saya mengaku salah karena melewatkan tenggat waktu, namun sebagai langganan tetap, apa tidak bisa Anda membuat pengecualian?”

    “Kami memahami bahwa budget Anda sangat ketat di kuartal pertama, tapi bisakah Anda menjadwalkan pembelian produk kami pada kuartal kedua?”

    Selain itu, ada banyak penerapan yang mungkin diungkapkan orang cerdas untuk membantu pencapaian target. Kalimat mereka tidak selalu berhasil, namun dalam banyak kasus, kalimat macam ini bisa meyakinkan orang lain untuk berpikir ulang dan mencari win-win solution.

    2. “Oh, Aku Jadi Ingat…”

    Penggunaan kalimat ini akan membuat topik pembicaraan beralih secara mendadak dan mematikan empati sehingga membuat orang yang kamu ajak bicara dipaksa mendengar sudut pandangmu.

    Karenanya, orang dengan kecerdasan emosi tinggi akan menghindari mengucapkan frase ini ketika sedang memberikan dukungan dan motivasi pada orang lain. Namun dalam situasi lain, orang-orang cerdas justru menggunakannya untuk mencegah percakapan yang tidak dia inginkan.

    Misalnya saat bertemu dengan orang yang terbiasa melontarkan kata-kata tidak menyenangkan atau selalu bicara panjang lebar tentang topik yang tidak kamu sukai, kamu bisa mengucapkan:

    “Oh, aku jadi ingat… (kemudian beberkan sendiri ceritamu atau cukup dengan menyebutkan aktivitas yang akan kamu lakukan, lalu pergi).”

    3. “Bagaimana Semuanya, Baik?”

    Orang yang mengucapkan kalimat ini terkesan tidak membutuhkan jawaban panjang, dan hanya ingin mendengar bahwa semua dalam kondisi baik. Ungkapan ini tidak cocok untuk orang yang butuh bantuan, namun orang cerdas kerap memanfaatkannya untuk meminimalisir masalah.

    Tanpa disadari, penggunaan kalimat ini akan memberikan efek mengakhiri percakapan, sehingga lawan bicara secara psikologis akan mengucapkan persetujuan dan kalimat untuk menghindari konflik.

    Berita selengkapnya >>> Klik di sini


    Artikel Selanjutnya


    Umur 3 Tahun, Bayi Jenius Ini Masuk Golongan Elit IQ Tinggi

    (Sumber: CNBC.com )


    Gaya Hidup Terkini Innovation
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.